Kamis, 28 Juni 2012

Contoh Studi Kasus-PENGARUH SIMPATI TERHADAP INTERAKSI PERGAULAN ANAK KOST


BAB I
PENDAHULUAN
 

A. Latar Belakang Penulisan
Manusia selain makhluk individual adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau interaksi.
Kehidupan kelompok tidak terlepas dari adanya interaksi yang berkelanjutan. Setiap individu tentunya menginginkan suatu interaksi yang baik. Perilaku individu sangat mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi interaksi diantaranya imitasi, identifikasi, sugesti, dan simpati.
Mahasiswa atau siswa, terutama dari daerah atau luar wilayah perkuliahan identik dengan kehidupan lingkungan kost, baik dengan teman lama atau yang baru dikenal. Interaksi di dalam pergaulan mereka tidak menentu, terkadang harmonis, tidak jarang pula timbul konflik.
Penyusun merasa tertarik akan bagaimana simpati sangat berpengaruh dalam interaksi disamping ketiga faktor lainnya. Dan karena penyusun sendiri berada di lingkungan kost, maka penyusun mencoba menyusun tema ini dengan judul “Pengaruh Simpati terhadap Interaksi Pergaulan Anak Kos”.  

B. Tujuan Penulisan
Dalam membahas tema ini, diharapkan penyusun dan pembaca dapat memperkaya ilmu sosiologi yang berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial dan konflik dalam interaksi sosial.

C. Ruang Lingkup Studi Kasus
Dalam pembahasan ini, penyusun hanya membatasi pembahasan mengenai bagaimana kehidupan di lingkungan kost, pengertian interaksi dan simpati serta pengaruh simpati terhadap interaksi antar individu di lingkungan kost.

D. Perumusan Masalah Studi Kasus

Masalah-masalah yang akan coba dibahas dalam studi kasus ini ialah:
1.      Apa itu simpati?
2.      Apa yang dimaksud dengan  Interaksi sosial?
3.      Bagaimana pergaulan dan interaksi lingkungan kost? 
4.      Bagaimana pengaruh simpati bagi interaksi sosial dalam lingkungan kost?

E.  Manfaat Pembahasan 
 Manfaat bagi Penyusun & Pembaca:
Dengan pembahasan ini akan sedikit menambah khasanah kita tentang kehidupan sosial yang penuh dinamika, memperluas wawasan tentang kajian ilmu sosiologi dan dapat memposisikan dan memahami interaksi dalam kehidupan anak kos. Dengan pembahasan ini pembaca dapat memahami dan melihat bagaimana interaksi yang baik dalam lingkungan sosial, dalam kajian ini khususnya lingkungan kehidupan kost.

F. Teknik Pengumpulan Data
Dalam pelaksanaan sebagai bekal penulisan, penulis mengumpulkan data sebagai laporan studi kasus dengan beberapa cara, yaitu :
1.      Kajian Kepustakaan
penulis membaca berbagai referensi mengenai tema yang akan diusung baik melalui buku maupun internet.
2.      Observasi
Di sini penulis sebagai pengamat langsung yang terjun dalam lingkungan yang dimaksud di atas.
3.      Wawancara
Penulis melakukan wawancara baik secara langsung maupun tidak langsung kepada beberapa subjek yang bersangkutan.



BAB II
PEMBAHASAN STUDI KASUS

PENGARUH SIMPATI TERHADAP INTERAKSI PERGAULAN ANAK KOST

A.    Pengertian Simpati
Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.[1]
Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau karena berasal dari daerah yang sama dan sebagainya.
Simpati merupakan perasaan rasa tertarik kepada orang lain. Oleh karena simpati merupakan perasaan, maka simpati tidak timbul atas dasar logis rasional, melainkan atas dasar perasaan atau emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik kepada orang lain yang seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya merasa tertarik sering tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Di samping individu mempunyai kecenderungan tertarik pada orang lain, individu juga mempunyai kecenderungan untuk menolak orang lain, ini yang sering disebut antipati. Jadi kalau simpati itu bersifat positif, maka antipati bersifat negatif.[2]

B.     Simpati dalam Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat. Dengan adanya nilai dan norma yang berlaku,interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung dengan baik jika aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dapat dilakukan dengan baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing,maka proses sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Di dalam kehidupan sehari-hari tentunya manusia tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan selalu perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi ataupun bertukar pikiran. Menurut Prof. Dr. Soerjono Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat disebut interaksi.[3]
Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang. Simpati diartikan menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang lain [Bennet, 1972:66]


C.    Kehidupan Lingkungan Kost
Anak kost yang berasal dari daerah lain atau kota lain yang biasa dikatakan dengan anak pendatang, sangat berbeda dengan daerah yang mereka tinggali untuk sekarang ini contohnya bisa kita lihat dari segi sosial, budaya mereka dari asal mereka sendiri dan ekonomi mereka sangatlah jauh berbeda dengan daerah yang mereka tinggali di lingkungan kost. Sehingga mau tak mau mereka yang berasal dari daerah lain atau kota lain harus bisa menyesuaikan diri. Tentu saja dengan tidak melupakan sistim sosial dan budaya mereka masing-masing. Karena jika mereka melupakan budaya mereka sendiri, berarti mereka tidak menyenangi budaya daerah mereka sendiri.
Tidak jarang para penghuni dalam satu lingkungan kost terdapat beraneka ragam latar belakang suku. Latar belakang suku kadang menimbulkan perbedaan yang memicu konflik baik antar individu maupun kelompok dalam lingkungan kost. Perbedaan suku terkadang menimbulkan cara pandang yang berbeda mengenai pemikiran mereka. Sedangkan dalam lingkungan kost terdapat aturan umum untuk interaksi yang baik untuk membina hubungan pertemanan yang harmonis.
Kehidupan bersama dalam segala kondisi maupun problematika kehidupan yang dihadapi mendorong para penghuni kost untuk membina hubungan yang tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi ikatan emosi yang kuat.

D.    Pentingnya Simpati bagi Interaksi Individu di Lingkungan Kost
Pada dasarnya, pengertian luas mengenai proses penyesuaian itu terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan sosialnya, yang dituntut dari individu, tidak hanya mengubah kelakuannya dalam menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan di luar, dalam lingkungan tempat ia hidup, tetapi ia juga dituntut untuk menyesuaikan  diri dengan adanya orang lain dan macam-macam kegiatan mereka. Maka, orang yang ingin menjadi anggota dari suatu kelompok, ia berada dalam posisi dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kelompok itu.[4]
Perbedaan persepsi menjadi biang terjadinya salah pengertian dan konflik. Perbedaan persepsi adalah perbedaan cara memaknai pengalaman bagi setiap orang. Karena perbedaan dunia, atau perbedaan persepsi inilah, simpati kepada setiap orang menjadi hal yang sangat penting dalam interaksi sosial. Kegagalan memahami dunia orang lain melalui simpati, adalah kegagalan dalam membangun interaksi sosial yakni kegagalan di dalam pergaulan sehari-hari.
Hidup di Lingkungan kos berarti menghadapi kehidupan dalam lingkungan yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya (keluarga). Konflik dalam lingkungan kehidupan kos yang tidak dapat dihindari dalam suatu interaksi perlu untuk dibenahi.
Proses adaptasi menjadi hal yang diutamakan dalam hal ini. Simpati memegang peranan penting bagi terbentuknya interaksi yang saling memahami atar mereka. Dengan simpati, walaupun adanya perbedaan persepsi, pemikiran, dan kemauan individu antar penghuni kost, hal itu dapat diselaraskan dan dipahami sebagai suatu perbedaan yang wajar sebagai terbentuknya jalinan emosi yang erat.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana membangun simpati pada orang lain? Pertama, prasayaratnya adalah rendah hati. Sifat rendah hati, siapa pun Anda, menjadi kunci pembuka pintu simpati orang lain. Sebab, manakala seseorang sudah berani–disengaja atau tidak—memposisikan diri “Aku lebih hebat dari pada Anda” atau “Anda lebih hebat dari pada orang lain”, pintu simpati telah tertutup rapat. Kedua, fleksibelitas. Ada kecendurangan diantara kita untuk “memaksa” orang lain untuk memahami apa yang kita inginkan/pikirkan. Ada “pemaksaan” bahwa apa yang kita pikirkan, kita petakan dalam pikiran, dianggap sama dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang perlu diingat setiap orang memiliki dunianya sendiri, memiliki persepsinya sendiri meski dalam hal/barang yang sama.[5]











BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
Simpati adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Simpati ini merupakan salah satu faktor dalam interaksi.
Kehidupan bersama dalam segala kondisi maupun problematika kehidupan yang dihadapi mendorong para penghuni kost untuk membina hubungan yang tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi ikatan emosi yang kuat. Simpati memegang peranan penting bagi terbentuknya interaksi yang saling memahami atar mereka. Dengan simpati, walaupun adanya perbedaan persepsi, pemikiran, dan kemauan individu antar penghuni kost, hal itu dapat diselaraskan dan dipahami sebagai suatu perbedaan yang wajar sebagai terbentuknya jalinan emosi yang erat.

B. Saran
 Setelah mengerti akan arti penting simpati dalam suatu interaksi baik lingkungan kost maupun interaksi kelompok lainnya, marilah bersama kita bersimpati sebelum meminta tindakan yang layak dari orang lain. Karena simpati berasal dari dalam diri emosi kita, hendaknya kita memulainya. Bersimpatilah... ^_^



[1] http://id.wikipedia.org/wiki/Simpati
[2] Walgito, Bimo. Psikologi Sosial. Yogyakarta: Andi. 2003.
[3] http://id.wikipedia.org/wiki/Interaksi_sosial
[4] Sobur, Alex. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia. 2009.
[5] http://waidi.wordpress.com/category/nlp/

Kamis, 31 Mei 2012

Kode Etik Jurnalistik


Jurnalis, mungkin bukan terbatas pada mencari tahu dan memberi tahu. Agar Profesional, semua itu ada koridornya. Untuk yang hobi dengan dunia pers, berikut ini kode etik seorang jurnalis ^_^

KODE ETIK JURNALISTIK

1.   Jurnalis menghormati hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang benar.
2. Jurnalis senantiasa mempertahankan prinsip-prinsip kebebasan dan keberimbangan dalam peliputan dan pemberitaan serta kritik dan komentar.
3.  Jurnalis memberi tempat bagi pihak yang kurang memiliki daya dan kesempatan untuk menyuarakan pendapatnya.
4.   Jurnalis hanya melaporkan fakta dan pendapat yang jelas sumbernya.
5.   Jurnalis tidak menyembunyikan informasi penting yang perlu diketahui masyarakat.
6.   Jurnalis menggunakan cara-cara yang etis untuk memperoleh berita, foto dan dokumen.
7. Jurnalis menghormati hak narasumber untuk memberi informasi latar belakang, off the record, dan embargo.
8.  Jurnalis segera meralat setiap pemberitaan yang diketahuinya tidak akurat.
9. Jurnalis menjaga kerahasiaan sumber informasi konfidensial, identitas korban kejahatan seksual, dan perilaku tindak pidana di bawah umur.
10. Jurnalis menghindari kebencian, prasangka, sikap merendahkan, diskriminasi, dalam masalah suku, ras, bangsa, politik, cacat/sakit jasmani, cacat/sakit mental atau latar belakang sosial lainnya.
11.  Jurnalis menghormati privasi, kecuali hal-hal itu bisa merugikan masyarakat.
12. Jurnalis tidak menyajikan berita dengan mengumbar kecabulan, kekejaman, kekerasan fisik dan seksual.
13. Jurnalis tidak memanfaatkan posisi dan informasi yang dimilikinya untuk mencari keuntungan pribadi.
14. Jurnalis tidak dibenarkan menerima sogokan. [Catatan: yang dimaksud dengan sogokan adalah semua bentuk pemberian berupa uang,barang dan atau fasilitas lain, yang secara langsung atau tidak langsung dapat mempengaruhi jurnalis dalam membuat kerja jurnalistik].
15.  Jurnalis tidak dibenarkan menjiplak.
16.  Jurnalis menghindari fitnah dan pencemaran nama baik.
17. Jurnalis menghindari setiap campur tangan pihak-pihak lain yang menghambat pelaksanaan prinsip-prinsip di atas.
18.  Kasus-kasus yang berhubungan dengan kode etik akan diselesaikan oleh Majelis Kode Etik.

Kata-kata asing:
 off the record : Permintaan dari narasumber untuk tidak menyiarkan keterangan yang diberikan.
Embargo : Penundaan pemuatan atau penyiaran berita sesuai dengan permintaan narasumber. Biasanya disampaikan secara tertulis pada materi bahan informasi atau berita yang diberikan oleh narasumber kepada wartawan.
Konfidensial : Bersifat Rahasia.

Senin, 28 Mei 2012

PSIKOANALISA: Sigmund Freud


A.    Biografi Sigmund Freud

Sigismund (sigmund) Freud  kemungkinan lahir tanggal 16 Maret atau 6 mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang kini menjadi bagian dari Republic Jeko. (Para cendikia bersilang pendapat tentang tanggal lahir – tanggal yang pertama disebut yaitu, delapan bulan setelah pernikahan orang tuanya). Freud adalah anak sulung dari Jacob dan Amalie Nathanson  Freud. Meskipun sang ayah sudah memiliki dua orang anak laki – laki dewasa, Emanuel dan phillipp, dari pernikahan sebelumnya.
Ketika Freud berusia tiga tahun, kedua keluarga Freud meninggalkan Freiberg. Keluarga Emanueln dan phillipp pindah ke inggris, sedangkan keluarga Jacob Freud pindah ke Leipzig kemudian ke Wina.
Pada tahun 1885, ia mendapatkan hibah untuk melakukan perjalanan dari universitas wina (Universitas of Vienna) dan memutuskan untuk belajar di paris bersama neurolog prancis terkemuka jean – martin Charcot. Selama empat bulan bersama Charcot , ia belajar teknik, hipnotis untuk menangani histeria, kelainan yang umumnya ditandai dengan kelumpuhan atau kelainan fungsi organ – organ tubuh tertentu. Melalui hipnotis, Freud mengetahui penyebab psikogenis dan seksual dari gejala – gejala hysteria.
Semenjak awal masa remaja, Freud jelas – jelas bermimpi membuat penemuan yang monumental dan meraih ketenaran (newton, 1995). Dalam beberapa kesempatan selama tahun 1880 dan 1890-an dirinya yakin bahwa ia berada di penghujung penemuan yang ia idam-idamkan tersebut. Kesempatan pertama untuk mendapatkan pengakuan muncul di tahun 1884 – 1885 ketika ia bereksperimen dengan kokain.
Pada saat studies on hysteria terbit, tejadi pertikaian professional antara Freud dan Breure sehingga hubungan pribadi diantaranya keduanya menjadi renggang. Freud kemudian beralih pada temannya, Wilhelm flies, dokter asal berlin yang berperan memperkuat gagasan baru yang dikembangkan oleh Freud.
Di akhir periode 1890-an, Freud dikucilkan oleh kalangan professional dan mengalami krisis pribadi. Ia mulai menganalisis mimpi – mimpinya sendiri. Dan setelah ayahnya meninggal dunia pada tahun 1896, ia berinisiatif untuk menganalisis dirinya sendiri setiap hari. Sekalipun analisis nya mengalami pergulatan sepanjang hidup.
Pada tahun 1902 , Freud mengundang segelintir dokter – dokter muda wina untuk datang kerumahnya guna mendiskusikan isu – isu psikologis. Akhirnya dimusim gugur tahun itu, kelima pria Freud, Alferd adler, wilhelmstekel, max kahane , dan Rudolf raitler membentuk wednesdey Psycological Society, dengan Freud sebagai pemimpin diskusi. Tahun 1908 organisasi ini mengambil nama yang lebih formal – Vienna Psyconalytic Society.
Pada tahun 1910, freud dan para pengikutnya membentuk Asosiasi Psikonalisis Internasional. (International Psyconalytic Association). Yang diketuai oleh Carl jung yang berasal dari Zurich. Freud tertarik dengan Jung karena kecerdasannya dan karena ia bukan orang yahudi dan juga bukan orang Wina . Dari tahun 1902 – 1906, ketujuh belas pengikut Freud adalah orang yahudi (kurzuel, 1989) dan Freud ingin agar psikonalisa menjadi lebih berwarna.

B. Tingkat Kehidupan Mental
1. Alam Tidak Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan perilaku kita yang nyata, seringkali kita tidak menyadari proses mental yang ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya seorang pria mengetahui bahwa ia tertarik pada seorang wanita tetapi tidak benar-benar memahami alasan dibalik ketertarikannya, yang mungkin saja bersifat tidak rasional.
Bagi Freud, alam tidak sadar merupakan penjelasan dari makna dibalik mimpi, kesalahan ucap (slips of the tongue), dan berbagai jenis lupa, yang dikenal sebagai represi (repression). Mimpi adalah sumber yang kaya akan materi tidak sadar.
 Dorongan tidak sadar ini dapat muncul di alam sadar setelah menjalani transformasi tertentu. Contohnya, seseorang dapat mengekspresikan dorongan erotis atau keinginan untuk melukai orang lain dengan cara menggoda atau mengolok-olok orang lain. Dorongan sejati (seks atau agresi) menjadi terselubung dan tersembunyi dari alam sadar kedua orang tersebut. Akan tetapi, alam tidak sadar dari orang pertama tersebut bisa mempengaruhi alam tidak sadar orang kedua secara langsung. Keduanya dapat memuaskan dorongan seksual maupun agresif, tetapi tak satupun diantara mereka menyadari motif di balik dorongan atau olok-olok tersebut. Dengan cara inilah, alam tidak sadar seseorang dapat berkomunikasi dengan alam tidak sadar dari orang lain, dan keduanya sama-sama tidak sadar akan proses tersebut.

2. Alam Bawah Sadar                                 
Alam bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen yang tak disadari, tetapi bisa muncul dalam kesadaran dengan cepat atau agak sukar (Freud, 1933/1964).
Isi alam bawah sadar ini datang dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (Conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus perhatian beralih ke pemikiran lain. Pikiran yang dapat keluar masuk antara alam sadar dan alam bawah sadar, umumnya adalah pikiran-pikiran yang bebas dari kecemasan. Antara gambaran sadar dan dorongan tidak sadar nyaris sama satu dengan lainnya.
Sumber kedua dari gambaran-gambaran bawah sadar adalah alam tidak sadar. Freud yakin bahwa pikiran bisa menyelinap dari sensor yang ketat dan masuk ke alam bawah sadar dalam bentuk yang tersembunyi. Beberapa dari gambaran ini tak pernah kita sadari karena begitu kita menyadari bahwa gambaran-gambaran tersebut datang dari alam tidak sadar maka kita akan merasa semakin cemas, sehingga sensor akhir akan bekerja untuk menekan gambaran yang memicu kecemasan tersebut dan mendorongnya kembali ke alam tidak sadar. Sedangkan sejumlah gambaran lain dari alam tidak sadar bisa masuk ke alam sadar karena bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap, ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat.
3. Alam Sadar
Alam sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam psikoanalisis, didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang langsung dapat kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke alam sadar. Pintu pertama adalah melalui kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu terbuka pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang stimulus dari luar. Dengan kata lain, hal-hal yang kita rasakan melalui indera dan tidak dianggap mengancam, masuk ke dalam alam sadar (Freud, 1933/1964).
Sumber kedua bagi elemen alam sadar ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak sadar.

Dalam teori tentang alam sadar (conscious mind), Freud menjelaskan bahwa alam sadar adalah segala sesuatu yang disadari oleh manusia pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi dan perasaan yang dimiliki manusia. Terkait dengan alam sadar ini adalah apa yang dinamakan oleh Freud sebagai alam pra-sadar, yaitu segala sesuatu yang dengan mudah dipanggil ke alam sadar, seperti kenangan-kenangan yang walaupun tidak Anda ingat ketika Anda berfikir, tetapi dapat dengan mudah dipanggil lagi, atau seringkali disebut sebagai “kenangan yang sudah tersedia” (available memory). Tidak ada masalah dengan dua lapisan ini, namun Freud mengatakan bahwa keduanya adalah bagian terkecil dari pikiran.

Adapun bagian terbesarnya adalah alam bawah sadar (unconscious mind). Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke dalamnya karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan pahit atau emosi yang terkait dengan trauma. Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yang sederhana seperti makanan atau seks, daya-daya neurotik, atau motif yang mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya. Namun anehnya, menurut Freud, kita sering terdorong untuk mengingkari atau menghalangi seluruh bentuk motif ini naik ke alam sadar. Oleh karena itu, motif-motif itu kita kenali dalam wujud samar-samar.

C. Wilayah Pikiran
Bagi Freud, bagian yang paling primitif dari pikiran adalah das Es atau “sesuatu”/”itu’ (it), yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Bagian kedua adalah das Ich, atau “saya” (I) yang diterjemahkan sebagai ego, dan yang terakhir adalah das Uber-Ich atau “saya yang lebih” (over-I), yang dalam bahasa inggris disebut superego.
1.    Id
Pada bagian inti dari kepribadian yang sepenuhnya tak disadari adalah wilayah psikis yang disebut sebagai id, yaitu istilah yang diambil dari kata ganti untuk “sesuatu” atau “itu” (the it), atau komponen yang tak sepenuhnya diakui oleh kepribadian. Id tak punya kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupaya untuk meredam ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar. Ini dikarenakan karena satu-satunya fungsi id adalah untuk memperoleh kepuasan sehingga kita menyebutnya sebagai prinsip kesenangan (pleasure principle). 
Sebagai wilayah bagi dorongan-dorongan dasar (dorongan utama). Id beroperasi berdasarkan proses utama (primary process). Oleh karena id menggunakan kacamata kuda dalam upayanya memenuhi prinsip kesenangan, maka id bertahan dengan cara bergantung pada pengembangan proses sekunder (secondary process) yang membuatnya dapat berhubungan dengan dunia luar. Fungsi sekunder ini dijalankan oleh ego.

2.      Ego
Ego, atau saya, adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan realita. Ego berkembang dari id semasa bayi dan menjadi satu-satunya sumber seseorang dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Ego dikendalikan oleh prinsip kenyataan (reality principle), yang berusaha menggantikan prinsip kesenangan milik id. Sebagai satu-satunya wilayah dari pikiran yang berhubungan dengan dunia luar, maka ego pun mengambil peran eksekutif atau pengambil keputusan dari kepribadian. Akan tetapi, oleh karena ego sebagian bersifat sadar, sebagian bersifat bawah sadar, dan sebagian lagi tidak sadar, maka ego bisa membuat keputusan di ketiga tingkat tersebut.
Letak perbedaan yang pokok antara das Es (id) dan das Ich (ego), yaitu kalau das Es itu hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin) maka das Ich dapat membedakan sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di luar (dunia objektif, dunia realitas). 
Ego dapat juga disebut efek eksekutif kepribadian, oleh karena ego ini mengontrol jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi serta cara-cara memenuhinya, serta memilih objek-objek yang dapat memenuhi kebutuhan; di dalam menjalankan fungsi ini seringkali ego harus mempersatukan pertentangan-pertentangan antara id dan superego dan dunia luar.

3.      Superego
Dalam psikologi Freudian, superego atau lebih (above-I), mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian serta dikendalikan oleh prinsip-prinsip moralistis. Adapun fungsi pokok das Ueber Ich (superego) itu dapat dilihat dalam hubungan dengan ketiga aspek kepribadian itu, yaitu:
- Merintangi impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang pernyataannya sangat ditentang oleh masyarakat;
-       Mendorong ego untuk lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada yang realistis;
-      Mengejar kesempurnaan

Jadi superego itu cenderung untuk menentang baik id dan ego dan membuat dunia menurut konsepsi yang ideal.

Idealis (moralistic and idealistic principles) yang berbeda dengan prinsip kesenangan dari id dan prinsip realistis dari ego. Superego berkembang dari ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya sendiri. Akan tetapi, superego berbeda dari ego dalam satu hal penting.
Superego memiliki dua subsistem, suara hati (conscience) dan ego ideal. Freud tidak membedakan kedua fungsi ini secara jelas, tetapi secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego ideal berkembang dari pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya dilakukan.

Freud (1993/1964) menggarisbawahi bahwa antar wilayah pikiran tersebut tidaklah dipisahkan secara tegas maupun dibagi oleh sekat yang jelas. Perkembangan ketiga wilayah ini bervariasi antar individu yang berbeda.
Freud menerangkan superego sebagai suatu system nilai, hati nurani anda. Superego itu tidaklah bawaan dari lahir, tetapi dipelajari, dan karena itu berhubungan dan terikat kepada kebudayaan. Freud menerangkan id sebagai beberapa proses yang terjadi pada suatu tingkat kesadaran, sedang lainnya terjadi pada proses yang tidak disadari. Akhirnya, penjelasan Freud mengenai Ego ialah suatu mediator atau pendamai dari superego dan id. Ego anda adalah bagian dari anda yang berhubungan kepada tuntutan dunia nyata. Dalam perkembangan model ini, Freud berusaha untuk menjelaskan beberapa sumber dari banyak konflik anda dan banyak dari motivasi anda yang tidak disadari. Super ego anda adalah sumber motivasi utama dan juga sebagai suatu penyumbang yang  besar terhadap timbulnya pertentangan-pertentangan di dalam diri.

D. Dinamika Kepribadian

1.      Instink
Ada tiga istilah yang banyak persamaannya, yaitu instink, keinginan (wish) dan kebutuhan (need). Instink adalah sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani.
Suatu instink adalah sejumlah energi psikis; kumpulan dari semua instink-instink merupakan keseluruhan daripada energi psikis yang digunakan oleh kepribadian. Suatu instink itu mempunyai empat macam sifat, yaitu:
-          Sumber instink, yaitu kondisi jasmaniah.
-          Tujuan instink, yaitu menghilangkan rangsangan kejasmanian.
-   Obyek instink, yaitu segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu.
-    Pendorong atau penggerak instink, yaitu kekuatan instink itu, yang tergantung kepada intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan.
Menurut Freud, instink dapat dibagi menjadi dua kelompok:
a.       Instink-instink hidup
Fungsi instink-instink hidup adalah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan memperpanjang ras. Bentuk-bentuk utama daripada instink ini ialah instink-instink makan, minum, dan seksual. Bentuk energi yang dipakai oleh instink-instink  hidup itu disebut “libido”.
b.      Instink-instink mati
Instink-instink mati disebut juga instink-instink merusak (destruktif). Freud berpendapat bahwa tiap orang mempunyai keinginan yang tidak disadarinya untuk mati. Pendapat tentang adanya keinginan mati itu didasarkan kepada prinsip konstansi yang dirumuskan oleh  Fechner, yaitu bahwa semua proses kehidupan itu cenderung untuk kembali kepada ketetapan dunia tiada kehidupan (anorganis).
Suatu derivatif instink-instink mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek substitusi. Seseorang berkelahi dengan orang lain dan bersifat destruktif, karena keinginan matinya dirintangi oleh kekuatan lain dalam kepribadian yang berlawanan dengan keinginan mati.

2.      Distribusi dan Penggunaan Energi Psikis
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana energi psikis itu didistribusikan serta digunakan oleh id, ego, dan superego. Oleh karena jumlah atau banyaknya energi itu terbatas, maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiga aspek itu dalam mempergunakan energi tersebut.
Kalau energi telah disediakan oleh instink-instink, dan dengan mekanisme identifikasi dipindahkan ke das Ich dan dan Ueber Ich, maka dapat terjadi saling pengaruh antara kekuatan-kekuatan pendorong dan kekuatan-kekuatan penahan pada pribadi. Das Es memiliki tenaga pendorong, sedangkan das Ich dan das Ueber Ich mempergunakan energinya untuk memenuhi atau menahan tujuan instink-instink. Sebagai aspek yang berfungsi dengan prinsip realitas, das Ich mengontrol das Es dan das Ueber Ich supaya keduanya berfungsi secara realitas. Apabila das Es menguasai kembali sebagian besar daripada energinya, maka tingkah laku orang akan impulsif dan primitif; sebaliknya, kalau das Ueber Ich menguasai sebagian besar dari pada energy, maka tindakan-tindakan orang akan lebih-lebih bersandar kepada pertimbangan-pertimbangan moral.

3.      Kecemasan atau Ketakutan 
        Biasanya reaksi individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Freud mengemukakan adanya tiga macam kecemasan, yaitu:
1.      Kecemasan realistis
Kecemasan yang paling pokok adalah kecemasan realistis atau takut akan bahaya-bahaya di dunia luar.
2.      Kecemasan neurotis
Adalah kecemasan kalau-kalau instink-instink tidak dapat dikendalikandan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum.
3.      Kecemasan moral adalah kecemasan kata hati
Orang yang superegonya berkembang baik cenderung untuk merasa dosa apabila dia melakukan atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan norma-norma moral.

Adapun fungsi kecemasan atau ketakutan itu ialah untuk memperingatkan orang akan datangnya bahaya, sebagai isyarat bagi das Ich, bahwa apabila tidak dilakukan tindakan-tindakan yang tepat bahaya itu akan meningkat sampai das Ich dikalahkan.
Kecemasan juga mengatur dirinya sendiri (self-regulating) karena bisa memicu represi, yang kemudian mengurangi rasa sakit akibat kecemasan tadi (Freud, 1933/1964). Apabila ego tidak mempunyai pilihan untuk melindungi diri, maka kecemasan tak akan bisa ditoleransi. Oleh karena itu, perilaku melindungi diri ini bermanfaat melindungi ego dari rasa sakit akibat kecemasan.

       E. Mekanisme Pertahanan Diri
Mekanisme-mekanisme pertahanan utama yang diidentifikasi oleh Freud mencakup:
1.      Represi
Adalah mekanisme pertahanan yang paling dasar, kerena muncul juga pada bentuk-bentuk mekanisme pertahanan lain. Manakala ego terancam oleh dorongan-dorongan id yang tidak dikehendaki, ego melindungi dirinya dengan merepresi dorongan-dorongan tersebut dengan cara memaksa perasaan-perasaan mengancam masuk ke alam tidak sadar (Freud, 1926/1959a).
2.      Pembentukan Reaksi
Salah satu cara agar dorongan yang ditekan tersebut dapat disadari adalah dengan cara menyembunyikan diri dalam selubung yang sama sekali bertentangan dengan bentuk semula.
3.      Pengalihan
Pada pengalihan (displacement), orang bisa mengarahkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai pada sejumlah orang atau objek sehingga dorongan aslinya terselubung atau tersembunyi.
4.      Fiksasi
Jika melangkah ke tahap perkembangan lebih lanjut memunculkan kecemasan yang begitu besar, maka ego bisa mengambil strategi untuk bertahan di tahap psikologis saat ini, yang lebih nyaman.
5.      Regresi
Pada saat libido melewati tahap perkembangan tertentu, di masa-masa penuh stres dan kecemasan, libido bisa kembali ke tahap yang sebelumnya.
6.      Proyeksi
Manakala dorongan dari dalam menyebabkan kecemasan yang berlebihan, ego biasanya mengurangi rasa cemas tersebut dengan mengarahkan dorongan yang tidak diinginkan ke objek eksternal, biasanya ke orang lain.
7.      Introyeksi
Adalah mekanisme pertahanan di mana seseorang meleburkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam egonya sendiri.
8.      Sublimasi
Merupakan represi dari tujuan genital dari eros dengan cara menggantinya ke hal-hal yang dapat diterima, baik secara kultural maupun sosial.   

A.    Perkembangan Kepribadian

Kepribadian itu berkembang dalam hubungan dengan empat macam sumber tegangan pokok, yaitu: proses pertumbuhan fisiologis, frustasi, konflik, dan ancaman. Sebagai akibat dari meningkatnya tegangan karena keempat sumber itu, maka orang terpaksa harus belajar cara-cara yang baru untuk mereduksikan tegangan. Belajar mempergunakan cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan kepribadian.
Identifikasi dan pemindahan obyek adalah cara-cara yang digunakan individu untuk mengatasi frustasi-frustasi, konflik-konflik atau kecemaan-kecemasannya. Di sini identifikasi itu dapat diberi definisi sebagai metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang lain dan membuatnya menjadi bagian daripada kepribadiannya. Dalam suatu pemindahan obyek, sumber dan tujuan instink tetap, hanya obyeknya yang berubah-ubah.
Fase-fase perkembangan
a.      Fase oral
Yaitu pada usia 0 sampai kira-kira satu tahun. Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamis.
b.      Fase anal
Yaitu pada usia kira-kira 1-3 tahun. Pada fase ini cathexis dan anti cathexis berpusat pada fungsi eliminatif (pembuangan kotoran).
c.       Fase falis
Yaitu pada usia kira-kira 3-5 tahun. Pada fase ini alat-alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting.
d.      Fase latent
Yaitu pada usia kira-kira 5-13 tahun. Pada fase ini impuls-impuls cenderung untuk ada dalam keadaan tertekan.
e.       Fase pubertas
Yaitu pada usia kira-kira 12-20 tahun. Pada masa ini impuls-impuls menonjol kembali. Apabila ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh das Ich dengan berhasil maka sampailah orang kepada fase kematangan terakhir, yaitu:
f.        Fase genital

Bersambung.. ^_^
Next>> Oedipus Complex pada laki-laki, oedipus complex pada perempuan, penerapan teori psikoanalisis






Diambi dari:

Feist, Jess. G. Feist. Teori Kepribadian. Jakarta: Salemba Humanika. 2010.


Poduska, Bernand. 4 Teori Kepribadian. Jakarta: Restu Agung. 1997.


Suryabrata, sumadi. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Rajawali Pers. 2010.