BAB
I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Penulisan
Manusia
selain makhluk individual adalah makhluk sosial. Sebagai makhluk sosial manusia
mempunyai dorongan untuk mengadakan hubungan dengan orang lain, manusia
mempunyai dorongan sosial. Dengan adanya dorongan atau motif sosial pada
manusia, maka manusia akan mencari orang lain untuk mengadakan hubungan atau
interaksi.
Kehidupan
kelompok tidak terlepas dari adanya interaksi yang berkelanjutan. Setiap
individu tentunya menginginkan suatu interaksi yang baik. Perilaku individu
sangat mempengaruhi bagaimana ia berinteraksi. Faktor-faktor yang mempengaruhi
interaksi diantaranya imitasi, identifikasi, sugesti, dan simpati.
Mahasiswa
atau siswa, terutama dari daerah atau luar wilayah perkuliahan identik dengan
kehidupan lingkungan kost, baik dengan teman lama atau yang baru dikenal.
Interaksi di dalam pergaulan mereka tidak menentu, terkadang harmonis, tidak
jarang pula timbul konflik.
Penyusun
merasa tertarik akan bagaimana simpati sangat berpengaruh dalam interaksi
disamping ketiga faktor lainnya. Dan karena penyusun sendiri berada di
lingkungan kost, maka penyusun mencoba menyusun tema ini dengan judul “Pengaruh
Simpati terhadap Interaksi Pergaulan Anak Kos”.
B. Tujuan Penulisan
Dalam
membahas tema ini, diharapkan penyusun dan pembaca dapat memperkaya ilmu
sosiologi yang berkaitan dengan dinamika kehidupan sosial dan konflik dalam
interaksi sosial.
C. Ruang Lingkup Studi Kasus
C. Ruang Lingkup Studi Kasus
Dalam
pembahasan ini, penyusun hanya membatasi pembahasan mengenai bagaimana
kehidupan di lingkungan kost, pengertian interaksi dan simpati serta pengaruh
simpati terhadap interaksi antar individu di lingkungan kost.
D. Perumusan Masalah Studi Kasus
D. Perumusan Masalah Studi Kasus
Masalah-masalah
yang akan coba dibahas dalam studi kasus ini ialah:
1. Apa
itu simpati?
2. Apa
yang dimaksud dengan Interaksi sosial?
3. Bagaimana
pergaulan dan interaksi lingkungan kost?
4. Bagaimana
pengaruh simpati bagi interaksi sosial dalam lingkungan kost?
E. Manfaat Pembahasan
Manfaat bagi Penyusun & Pembaca:
Dengan pembahasan ini akan sedikit menambah
khasanah kita tentang kehidupan sosial yang penuh dinamika, memperluas wawasan
tentang kajian ilmu sosiologi dan dapat memposisikan dan memahami interaksi
dalam kehidupan anak kos. Dengan pembahasan ini pembaca dapat memahami dan
melihat bagaimana interaksi yang baik dalam lingkungan sosial, dalam kajian ini
khususnya lingkungan kehidupan kost.
Dalam pelaksanaan sebagai bekal
penulisan, penulis mengumpulkan data sebagai laporan studi kasus dengan
beberapa cara, yaitu :
1. Kajian
Kepustakaan
penulis membaca
berbagai referensi mengenai tema yang akan diusung baik melalui buku maupun
internet.
2. Observasi
Di sini penulis sebagai
pengamat langsung yang terjun dalam lingkungan yang dimaksud di atas.
3. Wawancara
Penulis melakukan
wawancara baik secara langsung maupun tidak langsung kepada beberapa subjek
yang bersangkutan.
BAB
II
PEMBAHASAN
STUDI KASUS
PENGARUH
SIMPATI TERHADAP INTERAKSI PERGAULAN ANAK KOST
A. Pengertian Simpati
Simpati adalah suatu proses
seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga mampu merasakan apa
yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Dalam simpati, perasaan
memegang peranan penting. Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian
pada kedua belah pihak. Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan
persahabatan, hubungan bertetangga, atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa
simpati dari pada orang lain karena sikap, penampilan, wibawa, atau
perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat ulang tahun pada hari ulang tahun
merupakan wujud rasa simpati seseorang.[1]
Simpati dapat timbul
karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau karena
berasal dari daerah yang sama dan sebagainya.
Simpati merupakan perasaan
rasa tertarik kepada orang lain. Oleh karena simpati merupakan perasaan, maka
simpati tidak timbul atas dasar logis rasional, melainkan atas dasar perasaan
atau emosi. Dalam simpati orang merasa tertarik kepada orang lain yang
seakan-akan berlangsung dengan sendirinya, apa sebabnya merasa tertarik sering
tidak memberikan penjelasan lebih lanjut. Di samping individu mempunyai
kecenderungan tertarik pada orang lain, individu juga mempunyai kecenderungan
untuk menolak orang lain, ini yang sering disebut antipati. Jadi kalau simpati
itu bersifat positif, maka antipati bersifat negatif.[2]
B.
Simpati dalam Interaksi Sosial
Interaksi sosial merupakan suatu
fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma
dan nilai
sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat.
Dengan adanya nilai
dan norma
yang berlaku,interaksi sosial itu sendiri dapat berlangsung
dengan baik jika aturan-aturan dan nilai-nilai yang ada dapat dilakukan dengan
baik. Jika tidak adanya kesadaran atas pribadi masing – masing,maka proses
sosial itu sendiri tidak dapat berjalan sesuai dengan yang kita harapkan.
Di dalam kehidupan sehari-hari tentunya manusia
tidak dapat lepas dari hubungan antara satu dengan yang lainnya,ia akan selalu
perlu untuk mencari individu ataupun kelompok lain untuk dapat berinteraksi
ataupun bertukar pikiran. Menurut Prof. Dr. Soerjono
Soekamto di dalam pengantar sosiologi, interaksi sosial
merupakan kunci semua kehidupan sosial. Dengan tidak adanya komunikasi
ataupun interaksi antar satu sama lain maka tidak mungkin
ada kehidupan bersama. Jika hanya fisik yang saling berhadapan antara satu sama
lain, tidak dapat menghasilkan suatu bentuk kelompok sosial yang dapat saling
berinteraksi. Maka dari itu dapat disebutkan bahwa interaksi
merupakan dasar dari suatu bentuk proses sosial karena tanpa adanya interaksi
sosial, maka kegiatan–kegiatan antar satu individu dengan yang lain tidak dapat
disebut interaksi.[3]
Dalam simpati, perasaan memegang peranan penting.
Simpati akan berlangsung apabila terdapat pengertian pada kedua belah pihak
Simpati lebih banyak terlihat dalam hubungan persahabatan, hubungan bertetangga,
atau hubungan pekerjaan. Seseorang merasa simpati dari pada orang lain karena
sikap, penampilan, wibawa, atau perbuatannya. Misalnya, mengucapkan selamat
ulang tahun pada hari ulang tahun merupakan wujud rasa simpati seseorang.
Simpati diartikan menempatkan diri kita secara imajinatif dalam posisi orang
lain [Bennet, 1972:66]
C.
Kehidupan
Lingkungan Kost
Anak kost yang berasal dari daerah lain atau kota
lain yang biasa dikatakan dengan anak pendatang, sangat berbeda dengan daerah
yang mereka tinggali untuk sekarang ini contohnya bisa kita lihat dari segi
sosial, budaya mereka dari asal mereka sendiri dan ekonomi mereka sangatlah
jauh berbeda dengan daerah yang mereka tinggali di lingkungan kost. Sehingga
mau tak mau mereka yang berasal dari daerah
lain atau kota
lain harus bisa menyesuaikan diri. Tentu saja dengan tidak melupakan sistim
sosial dan budaya mereka masing-masing. Karena jika mereka melupakan budaya
mereka sendiri, berarti mereka tidak menyenangi budaya daerah mereka sendiri.
Tidak jarang para penghuni dalam satu lingkungan kost
terdapat beraneka ragam latar belakang suku. Latar belakang suku kadang
menimbulkan perbedaan yang memicu konflik baik antar individu maupun kelompok
dalam lingkungan kost. Perbedaan suku terkadang menimbulkan cara pandang yang
berbeda mengenai pemikiran mereka. Sedangkan dalam lingkungan kost terdapat
aturan umum untuk interaksi yang baik untuk membina hubungan pertemanan yang
harmonis.
Kehidupan bersama dalam segala kondisi maupun
problematika kehidupan yang dihadapi mendorong para penghuni kost untuk membina
hubungan yang tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi ikatan emosi yang kuat.
D.
Pentingnya
Simpati bagi Interaksi Individu di Lingkungan Kost
Pada dasarnya, pengertian luas mengenai proses
penyesuaian itu terbentuk sesuai dengan hubungan individu dengan lingkungan
sosialnya, yang dituntut dari individu, tidak hanya mengubah kelakuannya dalam
menghadapi kebutuhan-kebutuhan dirinya dari dalam dan keadaan di luar, dalam
lingkungan tempat ia hidup, tetapi ia juga dituntut untuk menyesuaikan diri dengan adanya orang lain dan macam-macam
kegiatan mereka. Maka, orang yang ingin menjadi anggota dari suatu kelompok, ia
berada dalam posisi dituntut untuk menyesuaikan diri dengan kelompok itu.[4]
Perbedaan persepsi menjadi biang terjadinya salah
pengertian dan konflik. Perbedaan persepsi adalah perbedaan cara memaknai
pengalaman bagi setiap orang. Karena perbedaan dunia, atau perbedaan persepsi
inilah, simpati kepada setiap orang menjadi hal yang sangat penting dalam
interaksi sosial. Kegagalan memahami dunia orang lain melalui simpati, adalah
kegagalan dalam membangun interaksi sosial yakni kegagalan di dalam pergaulan
sehari-hari.
Hidup di Lingkungan kos berarti menghadapi kehidupan
dalam lingkungan yang berbeda dengan kehidupan sebelumnya (keluarga). Konflik
dalam lingkungan kehidupan kos yang tidak dapat dihindari dalam suatu interaksi
perlu untuk dibenahi.
Proses adaptasi menjadi hal yang diutamakan dalam
hal ini. Simpati memegang peranan penting bagi terbentuknya interaksi yang
saling memahami atar mereka. Dengan simpati, walaupun adanya perbedaan
persepsi, pemikiran, dan kemauan individu antar penghuni kost, hal itu dapat
diselaraskan dan dipahami sebagai suatu perbedaan yang wajar sebagai
terbentuknya jalinan emosi yang erat.
Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana membangun
simpati pada orang lain? Pertama, prasayaratnya adalah rendah hati. Sifat
rendah hati, siapa pun Anda, menjadi kunci pembuka pintu simpati orang lain.
Sebab, manakala seseorang sudah berani–disengaja atau tidak—memposisikan diri
“Aku lebih hebat dari pada Anda” atau “Anda lebih hebat dari pada orang lain”,
pintu simpati telah tertutup rapat. Kedua, fleksibelitas. Ada kecendurangan
diantara kita untuk “memaksa” orang lain untuk memahami apa yang kita inginkan/pikirkan.
Ada “pemaksaan” bahwa apa yang kita pikirkan, kita petakan dalam pikiran,
dianggap sama dengan apa yang dipikirkan oleh orang lain. Yang perlu diingat setiap
orang memiliki dunianya sendiri, memiliki persepsinya sendiri meski dalam
hal/barang yang sama.[5]
BAB
III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Simpati
adalah suatu proses seseorang merasa tertarik terhadap pihak lain, sehingga
mampu merasakan apa yang dialami, dilakukan dan diderita orang lain. Simpati
ini merupakan salah satu faktor dalam interaksi.
Kehidupan bersama dalam segala kondisi
maupun problematika kehidupan yang dihadapi mendorong para penghuni kost untuk
membina hubungan yang tidak hanya dalam bentuk fisik, tetapi ikatan emosi yang
kuat. Simpati memegang peranan penting bagi terbentuknya interaksi yang saling
memahami atar mereka. Dengan simpati, walaupun adanya perbedaan persepsi,
pemikiran, dan kemauan individu antar penghuni kost, hal itu dapat diselaraskan
dan dipahami sebagai suatu perbedaan yang wajar sebagai terbentuknya jalinan
emosi yang erat.
B. Saran
Setelah mengerti akan arti penting simpati
dalam suatu interaksi baik lingkungan kost maupun interaksi kelompok lainnya,
marilah bersama kita bersimpati sebelum meminta tindakan yang layak dari orang
lain. Karena simpati berasal dari dalam diri emosi kita, hendaknya kita
memulainya. Bersimpatilah... ^_^
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Menurutmu?