| Add caption |
Mungkin aku adalah termasuk segelintir manusia yang jauh dari predikat jujur. Kejujuran, amat terasa ringan diucapkan, namun teramat bermakna untuk yang pandai memaknai.
Ah, mungkin aku cukup berkata yang sebenarnya untuk bisa dikatakan jujur. Tapi menurutku itu bukan hakikat sebuah kejujuran.
Jika ku tuangkan suatu pemikiran
dengan menindakkannya, ada suatu kepuasan batin bahwa aku tidak mengada-adakan
yang tak ada. Mungkin itulah kejujuran.
Aku ingat sebuah rencana kegiatan
sore itu. Karena kondisi badan yang sedang tidak mau diajak semangat, aku
bermalas-malasan sehingga sedikit waktu terbuang.
“Kemana
saja kau, baru nimbul!”. Teguran yang menyambutku kala ku hadirkan diri. “Aku
tadi sedikit malas untuk keluar”, jawabku seadanya. “kapan kata malas itu kau
hapus dari daftar sifatmu, heh!”.
Ku dapat lagi pukulan tajam pada
pinggiran hatiku, hanya pinggiran saja. Malas, begitukah penilaian orang lain
terhadapku. Kembali ku coba luruskan anggapan, dia berkata jujur tentang
penilaiannya. Lalu kenapa aku mesti merasa sakit? Bukankah temanku berkata
jujur, tanpa motif lain untuk membuat kata-katanya lebih layak untuk ku terima.
| Add caption |
“Aku disuruh mereka Pak, mereka
meminta untuk dicantumkan nama dan mengancamku jika aku mengatakan bahwa mereka
tidak ikut mengerjakan tugas itu”, terangku pada seorang Dosen suatu hari. “Trimakasih untuk informasinya”,
jawabnya.
Sudahkah ku pertimbangkan
perkataanku? Batinku dalam hati. Akibat dari itu, aku akan membuat suatu
kebencian antar manusia. Dosen yang memberikan penilaian negatif terhadap
teman-teman ku, serta teman-teman ku yang membenciku karena anggapan mereka
tentang ketidakpantasanku untuk diberi amanah.
Mereka menghampiriku, dan
mengutarakan kekesalan mereka karena mendapat nilai yang menurut mereka tidak
pantas. “Tega sekali kau, apa sih untungnya
memberitahukan pada dosen!”, ungkap salah seorang teman dengan nada
penuh kekecewaan. “Bukan hanya tentang nilai, sekarang pak Surya juga membenci
kami”, tambah yang lain.
Aku terdiam. Betapa mereka terluka atas
tindakanku. Benar, tidak ada untungnya
untukku. Tapi bukankah setidaknya aku telah menuruti sebuah anggapan yang
menurutku tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Lalu persoalannya, apakah
aku yang tidak jujur pada amanahku? Entahlah, menurut pandangan bersihku, aku
telah melakukan yang semestinya.
Hasil semester terpampang di dinding
gedung kampus. Mataku menangkap cantuman nama-nama yang tidak lulus mata kuliah
pak Surya. Ya, nama-nama mereka. Sesaat kepalaku terasa pening, tubuhku
lunglai. Aku telah merusak sejarah pendidikan mereka. Oleh sebuah kejujuran.
Mereka pun memperjuangkan masa depan, sama sepertiku. Maaf teman-teman.
Untuk bertindak jujur, mungkin aku
harus mempertimbangkan tentang kemungkinan akan dampaknya. Jika intuisiku
berkata itu tidak perlu dilakukan karena kemungkianan buruknya lebih besar, aku
harus mencari cara yang lebih tepat. Bagaimana mengungkapkan yang sebenarnya
dengan tidak perlu segamblang adanya. Tujuannya adalah untuk merubah kejujuran
kata menjadi makna
Aku tidak menginginkan korban lain
setelah ini. Melainkan upayaku untuk menerapkan pandangan yang lebih tepat
mengenai jujur pada diri sendiri. Dengan mempertimbangkan bahwa dengan
kejujuran ini ada manusia lain yang dibuat sama.
Kurnia
Desember
2010
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Menurutmu?