Kamis, 24 Mei 2012

Untuk Kejujuran


Add caption

Mungkin aku adalah termasuk segelintir  manusia yang jauh dari predikat jujur. Kejujuran, amat terasa ringan diucapkan, namun teramat bermakna untuk yang pandai memaknai.
            Ah, mungkin aku cukup berkata yang sebenarnya untuk bisa dikatakan jujur. Tapi menurutku itu bukan hakikat sebuah kejujuran.
            “Jangan terlalu jujur, sob!”, kata-kata senada itu yang sering mampir ke telingaku jika aku mencoba untuk mengatakan yang semestinya ku katakan. Mungkin setiap yang bersandangkan ‘terlalu’, implikasinya menjadi kurang baik. Tapi apakah segala hal yang dirasa kurang baik selalu dibarengi dengan kata ‘terlalu’?
            Jika ku tuangkan suatu pemikiran dengan menindakkannya, ada suatu kepuasan batin bahwa aku tidak mengada-adakan yang tak ada. Mungkin itulah kejujuran.

            Aku ingat sebuah rencana kegiatan sore itu. Karena kondisi badan yang sedang tidak mau diajak semangat, aku bermalas-malasan sehingga sedikit waktu terbuang.
“Kemana saja kau, baru nimbul!”. Teguran yang menyambutku kala ku hadirkan diri. “Aku tadi sedikit malas untuk keluar”, jawabku seadanya. “kapan kata malas itu kau hapus dari daftar sifatmu, heh!”.
            Ku dapat lagi pukulan tajam pada pinggiran hatiku, hanya pinggiran saja. Malas, begitukah penilaian orang lain terhadapku. Kembali ku coba luruskan anggapan, dia berkata jujur tentang penilaiannya. Lalu kenapa aku mesti merasa sakit? Bukankah temanku berkata jujur, tanpa motif lain untuk membuat kata-katanya lebih layak untuk ku terima.

Add caption
            Seharusnya aku beranggapan bahwa ia patut dihargai atas kejujurannya. Tidak seperti para petinggi yang suka berbohong itu, yang tidak bisa jujur  dengan komitmen untuk mementingkan perendah-perendahnya. Sudahlah, tak guna mengoreksi manusia lain. Hanya menambah dosa, dan mengurangi kejujuran pada diri sendiri jika tidak nyaman untuk membahasnya.

            “Aku disuruh mereka Pak, mereka meminta untuk dicantumkan nama dan mengancamku jika aku mengatakan bahwa mereka tidak ikut mengerjakan tugas itu”, terangku pada seorang Dosen  suatu hari. “Trimakasih untuk informasinya”, jawabnya.
            Sudahkah ku pertimbangkan perkataanku? Batinku dalam hati. Akibat dari itu, aku akan membuat suatu kebencian antar manusia. Dosen yang memberikan penilaian negatif terhadap teman-teman ku, serta teman-teman ku yang membenciku karena anggapan mereka tentang ketidakpantasanku untuk diberi amanah.
            Mereka menghampiriku, dan mengutarakan kekesalan mereka karena mendapat nilai yang menurut mereka tidak pantas. “Tega sekali kau, apa sih untungnya  memberitahukan pada dosen!”, ungkap salah seorang teman dengan nada penuh kekecewaan. “Bukan hanya tentang nilai, sekarang pak Surya juga membenci kami”, tambah yang lain.
            Aku terdiam. Betapa mereka terluka atas  tindakanku. Benar, tidak ada untungnya untukku. Tapi bukankah setidaknya aku telah menuruti sebuah anggapan yang menurutku tidak ada alasan untuk tidak melakukannya. Lalu persoalannya, apakah aku yang tidak jujur pada amanahku? Entahlah, menurut pandangan bersihku, aku telah melakukan yang semestinya.
            Hasil semester terpampang di dinding gedung kampus. Mataku menangkap cantuman nama-nama yang tidak lulus mata kuliah pak Surya. Ya, nama-nama mereka. Sesaat kepalaku terasa pening, tubuhku lunglai. Aku telah merusak sejarah pendidikan mereka. Oleh sebuah kejujuran. Mereka pun memperjuangkan masa depan, sama sepertiku. Maaf teman-teman.
            Untuk bertindak jujur, mungkin aku harus mempertimbangkan tentang kemungkinan akan dampaknya. Jika intuisiku berkata itu tidak perlu dilakukan karena kemungkianan buruknya lebih besar, aku harus mencari cara yang lebih tepat. Bagaimana mengungkapkan yang sebenarnya dengan tidak perlu segamblang adanya. Tujuannya adalah untuk merubah kejujuran kata menjadi makna
            Aku tidak menginginkan korban lain setelah ini. Melainkan upayaku untuk menerapkan pandangan yang lebih tepat mengenai jujur pada diri sendiri. Dengan mempertimbangkan bahwa dengan kejujuran ini ada manusia lain yang dibuat sama.

Kurnia
Desember 2010

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Menurutmu?