A.
Biografi
Sigmund Freud
Sigismund
(sigmund) Freud kemungkinan lahir
tanggal 16 Maret atau 6 mei 1856 di Freiberg, Moravia, yang kini menjadi
bagian dari Republic Jeko. (Para cendikia bersilang pendapat tentang tanggal
lahir – tanggal yang pertama disebut yaitu, delapan bulan setelah pernikahan
orang tuanya). Freud adalah anak sulung dari Jacob dan Amalie Nathanson Freud. Meskipun sang ayah sudah memiliki dua
orang anak laki – laki dewasa, Emanuel dan phillipp, dari pernikahan
sebelumnya.
Ketika Freud berusia
tiga tahun, kedua keluarga Freud meninggalkan Freiberg. Keluarga Emanueln dan
phillipp pindah ke inggris, sedangkan keluarga Jacob Freud pindah ke Leipzig
kemudian ke Wina.
Pada tahun 1885, ia mendapatkan hibah untuk melakukan perjalanan dari universitas wina (Universitas of Vienna) dan memutuskan untuk belajar di paris bersama neurolog prancis
terkemuka jean – martin Charcot. Selama empat bulan bersama Charcot , ia belajar
teknik, hipnotis untuk menangani histeria, kelainan yang umumnya ditandai dengan
kelumpuhan atau kelainan fungsi organ – organ tubuh tertentu. Melalui hipnotis,
Freud mengetahui penyebab psikogenis dan seksual dari gejala – gejala hysteria.
Semenjak awal
masa remaja, Freud jelas – jelas bermimpi membuat penemuan yang monumental dan
meraih ketenaran (newton, 1995). Dalam beberapa kesempatan selama tahun 1880
dan 1890-an dirinya yakin bahwa ia berada di penghujung penemuan yang ia idam-idamkan
tersebut. Kesempatan pertama untuk mendapatkan pengakuan muncul di tahun 1884 –
1885 ketika ia bereksperimen dengan kokain.
Pada saat
studies on hysteria terbit, tejadi pertikaian professional antara Freud dan Breure sehingga hubungan pribadi diantaranya keduanya menjadi renggang. Freud
kemudian beralih pada temannya, Wilhelm flies, dokter asal berlin yang berperan
memperkuat gagasan baru yang dikembangkan oleh Freud.
Di akhir periode
1890-an, Freud dikucilkan oleh kalangan professional dan mengalami krisis
pribadi. Ia mulai menganalisis mimpi – mimpinya sendiri. Dan setelah ayahnya
meninggal dunia pada tahun 1896, ia berinisiatif untuk menganalisis dirinya
sendiri setiap hari. Sekalipun analisis nya mengalami pergulatan sepanjang
hidup.
Pada tahun 1902
, Freud mengundang segelintir dokter – dokter muda wina untuk datang kerumahnya
guna mendiskusikan isu – isu psikologis. Akhirnya dimusim gugur tahun itu,
kelima pria Freud, Alferd adler, wilhelmstekel, max kahane , dan Rudolf
raitler membentuk wednesdey Psycological Society, dengan Freud sebagai pemimpin
diskusi. Tahun 1908 organisasi ini mengambil nama yang lebih formal – Vienna
Psyconalytic Society.
Pada tahun 1910, freud
dan para pengikutnya membentuk Asosiasi Psikonalisis Internasional.
(International Psyconalytic Association). Yang diketuai oleh Carl jung yang
berasal dari Zurich. Freud tertarik dengan Jung karena kecerdasannya dan karena
ia bukan orang yahudi dan juga bukan orang Wina . Dari tahun 1902 – 1906,
ketujuh belas pengikut Freud adalah orang yahudi (kurzuel, 1989) dan Freud ingin
agar psikonalisa menjadi lebih berwarna.
B. Tingkat Kehidupan Mental
1. Alam Tidak
Sadar
Alam tidak sadar (unconscious) menjadi tempat bagi segala
dorongan, desakan, maupun insting yang tak kita sadari tetapi ternyata
mendorong perkataan, perasaan, dan tindakan kita. Sekalipun kita sadar akan
perilaku kita yang nyata, seringkali kita tidak menyadari proses mental yang
ada dibalik perilaku tersebut. Misalnya seorang pria mengetahui bahwa
ia tertarik pada seorang wanita tetapi tidak benar-benar memahami alasan
dibalik ketertarikannya, yang mungkin saja bersifat tidak rasional.
Bagi Freud, alam tidak sadar
merupakan penjelasan dari makna dibalik mimpi, kesalahan ucap (slips of the tongue), dan berbagai jenis
lupa, yang dikenal sebagai represi (repression).
Mimpi adalah sumber yang kaya akan materi tidak sadar.
Dorongan tidak sadar ini dapat muncul di alam
sadar setelah menjalani transformasi tertentu. Contohnya, seseorang dapat
mengekspresikan dorongan erotis atau keinginan untuk melukai orang lain dengan
cara menggoda atau mengolok-olok orang lain. Dorongan sejati (seks atau agresi)
menjadi terselubung dan tersembunyi dari alam sadar kedua orang tersebut. Akan
tetapi, alam tidak sadar dari orang pertama tersebut bisa mempengaruhi alam
tidak sadar orang kedua secara langsung. Keduanya dapat memuaskan dorongan seksual
maupun agresif, tetapi tak satupun diantara mereka menyadari motif di balik
dorongan atau olok-olok tersebut. Dengan cara inilah, alam tidak sadar
seseorang dapat berkomunikasi dengan alam tidak sadar dari orang lain, dan
keduanya sama-sama tidak sadar akan proses tersebut.
2.
Alam Bawah Sadar
Alam bawah sadar (preconscious) ini memuat semua elemen
yang tak disadari, tetapi bisa muncul dalam kesadaran dengan cepat atau agak
sukar (Freud, 1933/1964).
Isi alam bawah sadar ini datang
dari dua sumber, yang pertama adalah persepsi sadar (Conscious perception). Apa yang dipersepsikan orang secara sadar
dalam waktu singkat, akan segera masuk ke dalam alam bawah sadar selagi fokus
perhatian beralih ke pemikiran lain. Pikiran yang dapat keluar masuk antara alam
sadar dan alam bawah sadar, umumnya adalah pikiran-pikiran yang bebas dari
kecemasan. Antara gambaran sadar dan dorongan tidak sadar nyaris sama satu
dengan lainnya.
Sumber kedua dari gambaran-gambaran
bawah sadar adalah alam tidak sadar. Freud yakin bahwa pikiran bisa menyelinap
dari sensor yang ketat dan masuk ke alam bawah sadar dalam bentuk yang
tersembunyi. Beberapa dari gambaran ini tak pernah kita sadari karena begitu
kita menyadari bahwa gambaran-gambaran tersebut datang dari alam tidak sadar maka
kita akan merasa semakin cemas, sehingga sensor akhir akan bekerja untuk
menekan gambaran yang memicu kecemasan tersebut dan mendorongnya kembali ke alam
tidak sadar. Sedangkan sejumlah gambaran lain dari
alam tidak sadar bisa masuk
ke alam sadar karena bersembunyi dengan baik dalam bentuk mimpi, salah ucap,
ataupun dalam bentuk pertahanan diri yang kuat.
3. Alam Sadar
Alam sadar (conscious), yang memainkan peran tak berarti dalam psikoanalisis,
didefinisikan sebagai elemen-elemen mental yang setiap saat berada dalam
kesadaran. Ini adalah satu-satunya tingkat kehidupan mental yang langsung dapat
kita raih. Ada dua pintu yang dapat dilalui oleh pikiran agar bisa masuk ke
alam sadar. Pintu pertama adalah melalui kesadaran perseptual (perceptual conscious), yaitu terbuka
pada dunia luar dan berfungsi sebagai perantara bagi persepsi kita tentang
stimulus dari luar. Dengan kata lain, hal-hal yang kita rasakan melalui indera dan
tidak dianggap mengancam, masuk ke dalam alam sadar (Freud, 1933/1964).
Sumber kedua bagi elemen alam sadar
ini datang dari dalam struktur mental dan mencakup gagasan-gagasan tidak
mengancam yang datang dari alam bawah sadar maupun gambaran-gambaran yang
membuat cemas, tetapi terselubung dengan rapi yang berasal dari alam tidak
sadar.
Dalam
teori tentang alam sadar (conscious mind), Freud menjelaskan
bahwa alam sadar adalah segala sesuatu yang disadari oleh manusia pada
saat-saat tertentu, penginderaan langsung, ingatan, pemikiran, fantasi dan
perasaan yang dimiliki manusia. Terkait dengan alam sadar ini adalah apa yang
dinamakan oleh Freud sebagai alam pra-sadar, yaitu segala sesuatu
yang dengan mudah dipanggil ke alam sadar, seperti kenangan-kenangan yang
walaupun tidak Anda ingat ketika Anda berfikir, tetapi dapat dengan mudah
dipanggil lagi, atau seringkali disebut sebagai “kenangan yang sudah tersedia” (available
memory). Tidak ada masalah dengan dua lapisan ini, namun Freud mengatakan
bahwa keduanya adalah bagian terkecil dari pikiran.
Adapun
bagian terbesarnya adalah alam bawah sadar (unconscious mind).
Bagian ini mencakup segala sesuatu yang sangat sulit dibawa ke alam sadar,
seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke dalamnya
karena kita tidak mampu menjangkaunya, seperti kenangan pahit atau emosi yang
terkait dengan trauma. Freud berpendapat bahwa alam bawah sadar adalah sumber
dari motivasi dan dorongan yang ada dalam diri kita, apakah itu hasrat yang
sederhana seperti makanan atau seks, daya-daya neurotik, atau motif yang
mendorong seorang seniman atau ilmuwan berkarya. Namun anehnya, menurut Freud,
kita sering terdorong untuk mengingkari atau menghalangi seluruh bentuk motif
ini naik ke alam sadar. Oleh karena itu, motif-motif itu kita kenali dalam
wujud samar-samar.
C. Wilayah
Pikiran
Bagi Freud, bagian yang paling
primitif dari pikiran adalah das Es
atau “sesuatu”/”itu’ (it), yang hampir selalu diterjemahkan sebagai id. Bagian kedua adalah das Ich, atau
“saya” (I) yang diterjemahkan sebagai ego,
dan yang terakhir adalah das Uber-Ich atau “saya yang lebih” (over-I), yang
dalam bahasa inggris disebut superego.
1.
Id
Pada
bagian inti dari kepribadian yang sepenuhnya tak disadari adalah wilayah psikis
yang disebut sebagai id, yaitu istilah yang diambil dari kata ganti untuk
“sesuatu” atau “itu” (the it), atau komponen yang tak sepenuhnya diakui oleh
kepribadian. Id tak punya kontak dengan dunia nyata, tetapi selalu berupaya
untuk meredam ketegangan dengan cara memuaskan hasrat-hasrat dasar. Ini
dikarenakan karena satu-satunya fungsi id adalah untuk memperoleh kepuasan
sehingga kita menyebutnya sebagai prinsip kesenangan (pleasure principle).
Sebagai
wilayah bagi dorongan-dorongan dasar (dorongan utama). Id beroperasi
berdasarkan proses utama (primary process).
Oleh karena id menggunakan kacamata kuda dalam upayanya memenuhi prinsip
kesenangan, maka id bertahan dengan cara bergantung pada pengembangan proses
sekunder (secondary process) yang
membuatnya dapat berhubungan dengan dunia luar. Fungsi sekunder ini dijalankan
oleh ego.
2.
Ego
Ego,
atau saya, adalah satu-satunya wilayah pikiran yang memiliki kontak dengan
realita. Ego berkembang dari id semasa bayi dan menjadi satu-satunya sumber
seseorang dalam berkomunikasi dengan dunia luar. Ego dikendalikan oleh prinsip
kenyataan (reality principle), yang berusaha menggantikan prinsip kesenangan
milik id. Sebagai satu-satunya wilayah dari pikiran yang berhubungan dengan
dunia luar, maka ego pun mengambil peran eksekutif atau pengambil keputusan
dari kepribadian. Akan tetapi, oleh karena ego sebagian bersifat sadar,
sebagian bersifat bawah sadar, dan sebagian lagi tidak sadar, maka ego bisa
membuat keputusan di ketiga tingkat tersebut.
Letak
perbedaan yang pokok antara das Es (id) dan das Ich (ego), yaitu kalau das Es
itu hanya mengenal dunia subjektif (dunia batin) maka das Ich dapat membedakan
sesuatu yang hanya ada di dalam batin dan sesuatu yang ada di luar (dunia
objektif, dunia realitas).
Ego
dapat juga disebut efek eksekutif kepribadian, oleh karena ego ini mengontrol
jalan-jalan yang ditempuh, memilih kebutuhan-kebutuhan yang dapat dipenuhi
serta cara-cara memenuhinya, serta memilih objek-objek yang dapat memenuhi
kebutuhan; di dalam menjalankan fungsi ini seringkali ego harus mempersatukan
pertentangan-pertentangan antara id dan superego dan dunia luar.
3.
Superego
Dalam
psikologi Freudian, superego atau lebih (above-I),
mewakili aspek-aspek moral dan ideal dari kepribadian serta dikendalikan oleh
prinsip-prinsip moralistis. Adapun fungsi pokok das Ueber Ich (superego) itu
dapat dilihat dalam hubungan dengan ketiga aspek kepribadian itu, yaitu:
- Merintangi
impuls-impuls id, terutama impuls-impuls seksual dan agresif yang pernyataannya
sangat ditentang oleh masyarakat;
- Mendorong ego untuk
lebih mengejar hal-hal yang moralistis daripada yang realistis;
- Mengejar kesempurnaan
Jadi
superego itu cenderung untuk menentang baik id dan ego dan membuat dunia
menurut konsepsi yang ideal.
Idealis
(moralistic and idealistic principles)
yang berbeda dengan prinsip kesenangan dari id dan prinsip realistis dari ego.
Superego berkembang dari ego, dan seperti ego, ia tak punya sumber energinya
sendiri. Akan tetapi, superego berbeda dari ego dalam satu hal penting.
Superego
memiliki dua subsistem, suara hati (conscience)
dan ego ideal. Freud tidak membedakan kedua fungsi ini secara jelas, tetapi
secara umum, suara hati lahir dari pengalaman-pengalaman mendapatkan hukuman
atas perilaku yang tidak pantas dan mengajari kita tentang hal-hal yang sebaiknya tidak dilakukan, sedangkan ego
ideal berkembang dari pengalaman mendapatkan imbalan atas perilaku yang tepat
dan mengarahkan kita pada hal-hal yang sebaiknya
dilakukan.
Freud
(1993/1964) menggarisbawahi bahwa antar wilayah pikiran tersebut tidaklah
dipisahkan secara tegas maupun dibagi oleh sekat yang jelas. Perkembangan
ketiga wilayah ini bervariasi antar individu yang berbeda.
Freud
menerangkan superego sebagai suatu system nilai, hati nurani anda. Superego
itu tidaklah bawaan dari lahir, tetapi dipelajari, dan karena itu berhubungan
dan terikat kepada kebudayaan. Freud menerangkan id sebagai beberapa proses
yang terjadi pada suatu tingkat kesadaran, sedang lainnya terjadi pada proses yang
tidak disadari. Akhirnya, penjelasan Freud mengenai Ego ialah suatu mediator
atau pendamai dari superego dan id. Ego anda adalah bagian dari anda yang
berhubungan kepada tuntutan dunia nyata. Dalam perkembangan model ini, Freud
berusaha untuk menjelaskan beberapa sumber dari banyak konflik anda dan banyak
dari motivasi anda yang tidak disadari. Super ego anda adalah sumber motivasi
utama dan juga sebagai suatu penyumbang yang
besar terhadap timbulnya pertentangan-pertentangan di dalam diri.
D.
Dinamika Kepribadian
1.
Instink
Ada tiga istilah yang banyak
persamaannya, yaitu instink, keinginan (wish)
dan kebutuhan (need). Instink adalah
sumber perangsang somatis dalam yang dibawa sejak lahir, keinginan adalah
perangsang psikologis, sedangkan kebutuhan adalah perangsang jasmani.
Suatu instink adalah sejumlah energi
psikis; kumpulan dari semua instink-instink merupakan keseluruhan daripada
energi psikis yang digunakan oleh kepribadian. Suatu instink itu mempunyai
empat macam sifat, yaitu:
-
Sumber instink, yaitu
kondisi jasmaniah.
-
Tujuan instink, yaitu menghilangkan
rangsangan kejasmanian.
- Obyek instink, yaitu
segala aktivitas yang mengantarai keinginan dan terpenuhinya keinginan itu.
- Pendorong atau
penggerak instink, yaitu kekuatan instink itu, yang tergantung kepada
intensitas (besar-kecilnya) kebutuhan.
Menurut Freud, instink dapat dibagi menjadi dua
kelompok:
a. Instink-instink
hidup
Fungsi
instink-instink hidup adalah melayani maksud individu untuk tetap hidup dan
memperpanjang ras. Bentuk-bentuk utama daripada instink ini ialah
instink-instink makan, minum, dan seksual. Bentuk energi yang dipakai oleh
instink-instink hidup itu disebut
“libido”.
b. Instink-instink
mati
Instink-instink
mati disebut juga instink-instink merusak (destruktif).
Freud berpendapat bahwa tiap orang mempunyai keinginan yang tidak disadarinya
untuk mati. Pendapat tentang adanya keinginan mati itu didasarkan kepada
prinsip konstansi yang dirumuskan oleh
Fechner, yaitu bahwa semua proses kehidupan itu cenderung untuk kembali
kepada ketetapan dunia tiada kehidupan (anorganis).
Suatu derivatif
instink-instink mati yang terpenting adalah dorongan agresif. Sifat agresif
adalah pengrusakan diri yang diubah dengan obyek substitusi. Seseorang
berkelahi dengan orang lain dan bersifat destruktif, karena keinginan matinya
dirintangi oleh kekuatan lain dalam kepribadian yang berlawanan dengan
keinginan mati.
2.
Distribusi
dan Penggunaan Energi Psikis
Dinamika kepribadian terdiri dari cara bagaimana
energi psikis itu didistribusikan serta
digunakan oleh id, ego, dan superego. Oleh karena jumlah atau banyaknya energi
itu terbatas, maka akan terjadi semacam persaingan diantara ketiga aspek itu
dalam mempergunakan energi tersebut.
Kalau energi telah disediakan oleh
instink-instink, dan dengan mekanisme identifikasi dipindahkan ke das Ich dan
dan Ueber Ich, maka dapat terjadi saling pengaruh antara kekuatan-kekuatan
pendorong dan kekuatan-kekuatan penahan pada pribadi. Das Es memiliki tenaga pendorong,
sedangkan das Ich dan das Ueber Ich mempergunakan energinya untuk memenuhi atau
menahan tujuan instink-instink. Sebagai aspek yang berfungsi dengan prinsip
realitas, das Ich mengontrol das Es dan das Ueber Ich supaya keduanya berfungsi
secara realitas. Apabila das Es menguasai kembali sebagian besar daripada
energinya, maka tingkah laku orang akan impulsif dan primitif; sebaliknya,
kalau das Ueber Ich menguasai sebagian besar dari pada energy, maka
tindakan-tindakan orang akan lebih-lebih bersandar kepada
pertimbangan-pertimbangan moral.
3.
Kecemasan
atau Ketakutan
Biasanya reaksi
individu terhadap ancaman ketidaksenangan dan pengrusakan yang belum dihadapinya ialah menjadi cemas atau takut. Freud mengemukakan adanya tiga
macam kecemasan, yaitu:
1. Kecemasan
realistis
Kecemasan yang
paling pokok adalah kecemasan realistis atau takut akan bahaya-bahaya di dunia
luar.
2. Kecemasan
neurotis
Adalah kecemasan
kalau-kalau instink-instink tidak dapat dikendalikandan menyebabkan orang
berbuat sesuatu yang dapat dihukum.
3. Kecemasan
moral adalah kecemasan kata hati
Orang yang
superegonya berkembang baik cenderung untuk merasa dosa apabila dia melakukan
atau bahkan berpikir untuk melakukan sesuatu yang bertentangan dengan
norma-norma moral.
Adapun
fungsi kecemasan atau ketakutan itu ialah untuk memperingatkan orang akan
datangnya bahaya, sebagai isyarat bagi das Ich, bahwa apabila tidak dilakukan
tindakan-tindakan yang tepat bahaya itu akan meningkat sampai das Ich
dikalahkan.
Kecemasan
juga mengatur dirinya sendiri (self-regulating)
karena bisa memicu represi, yang kemudian mengurangi rasa sakit akibat
kecemasan tadi (Freud, 1933/1964). Apabila ego tidak mempunyai pilihan untuk
melindungi diri, maka kecemasan tak akan bisa ditoleransi. Oleh karena itu,
perilaku melindungi diri ini bermanfaat melindungi ego dari rasa sakit akibat
kecemasan.
E. Mekanisme Pertahanan Diri
Mekanisme-mekanisme
pertahanan utama yang diidentifikasi oleh Freud mencakup:
1. Represi
Adalah mekanisme
pertahanan yang paling dasar, kerena muncul juga pada bentuk-bentuk mekanisme
pertahanan lain. Manakala ego terancam oleh dorongan-dorongan id yang tidak
dikehendaki, ego melindungi dirinya dengan merepresi dorongan-dorongan tersebut
dengan cara memaksa perasaan-perasaan mengancam masuk ke alam tidak sadar
(Freud, 1926/1959a).
2. Pembentukan
Reaksi
Salah satu cara
agar dorongan yang ditekan tersebut dapat disadari adalah dengan cara
menyembunyikan diri dalam selubung yang sama sekali bertentangan dengan bentuk
semula.
3. Pengalihan
Pada pengalihan
(displacement), orang bisa mengarahkan dorongan-dorongan yang tidak sesuai pada
sejumlah orang atau objek sehingga dorongan aslinya terselubung atau
tersembunyi.
4. Fiksasi
Jika melangkah
ke tahap perkembangan lebih lanjut memunculkan kecemasan yang begitu besar,
maka ego bisa mengambil strategi untuk bertahan di tahap psikologis saat ini,
yang lebih nyaman.
5. Regresi
Pada saat libido
melewati tahap perkembangan tertentu, di masa-masa penuh stres dan kecemasan,
libido bisa kembali ke tahap yang sebelumnya.
6. Proyeksi
Manakala dorongan
dari dalam menyebabkan kecemasan yang berlebihan, ego biasanya mengurangi rasa
cemas tersebut dengan mengarahkan dorongan yang tidak diinginkan ke objek
eksternal, biasanya ke orang lain.
7. Introyeksi
Adalah mekanisme
pertahanan di mana seseorang meleburkan sifat-sifat positif orang lain ke dalam
egonya sendiri.
8. Sublimasi
Merupakan
represi dari tujuan genital dari eros dengan cara menggantinya ke hal-hal yang
dapat diterima, baik secara kultural maupun sosial.
A.
Perkembangan
Kepribadian
Kepribadian
itu berkembang dalam hubungan dengan empat macam sumber tegangan pokok, yaitu:
proses pertumbuhan fisiologis, frustasi, konflik, dan ancaman. Sebagai akibat
dari meningkatnya tegangan karena keempat sumber itu, maka orang terpaksa harus
belajar cara-cara yang baru untuk mereduksikan tegangan. Belajar mempergunakan
cara-cara baru dalam mereduksikan tegangan inilah yang disebut perkembangan
kepribadian.
Identifikasi
dan pemindahan obyek adalah cara-cara yang digunakan individu untuk mengatasi frustasi-frustasi,
konflik-konflik atau kecemaan-kecemasannya. Di sini identifikasi itu dapat
diberi definisi sebagai metode yang dipergunakan orang dalam menghadapi orang
lain dan membuatnya menjadi bagian daripada kepribadiannya. Dalam suatu
pemindahan obyek, sumber dan tujuan instink tetap, hanya obyeknya yang
berubah-ubah.
Fase-fase
perkembangan
a.
Fase
oral
Yaitu pada usia
0 sampai kira-kira satu tahun. Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok
aktivitas dinamis.
b.
Fase
anal
Yaitu pada usia
kira-kira 1-3 tahun. Pada fase ini cathexis dan anti cathexis berpusat pada
fungsi eliminatif (pembuangan kotoran).
c.
Fase
falis
Yaitu pada usia
kira-kira 3-5 tahun. Pada fase ini alat-alat kelamin merupakan daerah erogen
terpenting.
d.
Fase
latent
Yaitu pada usia
kira-kira 5-13 tahun. Pada fase ini impuls-impuls cenderung untuk ada dalam
keadaan tertekan.
e.
Fase
pubertas
Yaitu pada usia
kira-kira 12-20 tahun. Pada masa ini impuls-impuls menonjol kembali. Apabila
ini dapat dipindahkan dan disublimasikan oleh das Ich dengan berhasil maka
sampailah orang kepada fase kematangan terakhir, yaitu:
Bersambung.. ^_^
Next>> Oedipus Complex pada laki-laki, oedipus complex pada perempuan, penerapan teori psikoanalisis
Diambi dari: